Pada manusia Aura dapat kita lihat menjadi TIGA bagian .
- Bagian pertama atau bagian yang paling dekat dengan permukaan tubuh yang seakan menyelimuti dan mengikuti lekuk tubuh secara tepat adalah Aura Kembaran kita.(atau disebut juga Aura kembaran Etheris).
Warna Aura ini kebanyakan berwarna gelap atau kadang agak kelabu.
- Lapisan Kedua terletak diatasnya atau diluarnya adalah Aura bagian dalam yang sedikit banyak mencermin kankeadaan kesehatan si pemilik tubuh tsb.
- Lapisan ketiga adalah lapisan diatasnya lagi atau dibagian luarnya lagi yang kita sebut Aura bagian luar ,yang sangat banyak terpengaruh oleh keadaan mental atau kebatinan orang ybs.
MERAH
Jika seseorang pancaran auranya berwarna merah berarti ia dipenuhi sifat kuasa dan ego untuk mencapai kesuksesan.
Warna merah ini sering tertahan dimasa kecil, dimana dari lingkungan keluarganya dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita keluarga, sehingga tampak keruh dan berantakan.
Setelah beranjak dewasa dan mampu hidup mandiri, auranya akan meluas dan ia akan mampu melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Orang yang mempunyai warna latar aura merah, sifatnya suka memrintah, bertanggung jawab dan mempunyai sifat pemimpin.
Mempunyai sifat kasih sayang dan sikap hangat kepada sesame.
Merah juga menandakan sifat berani.
Sifat negative dari warna merah adalah penggugup.
JINGGA
Seseorang yang pancaran auranya berwarna jingga, maka ia mempunyai sifat kepedulian
Mempunyai sifat alami kemampuan intuitif, bijaksana dan mudah bergaul
Warna jingga mempunyai sifat sebagai juru damai, timbang rasa, praktis
Sifat negatif warna jingga adalah, malas, tidak mampu dan tidak peduli
KUNING
Seseorang yang pancaranya auranya berwarna kuning, mempunyai sifat yang antusias dan mengasyikan
Berpikir dengan cepat dan menghibur orang lain
Senang berkumpul, menikmati percakapan yang panjang
Senang belajar tapi sifatnya hanya coba-coba sehingga pengetahuanya hanya sebatas kulitnya saja
Warna kuning juga suka dengan gagasan dan berekspresi
Sifat negative dari warna kuning adalah malu-malu dan suka berdusta
HIJAU
Jika seseorang pancaran auranya berwarna hijau, maka ia mempunyai sifat sejuk dan damai dan ia juga berbakat untuk menjadi seorang penyembuh alami
Sikapnya kooperatif, dapat dipercaya, dan murah hati
Sifat hijau menyukai tantangan, bekerja tanpa kenal lelah, mudah dimintai tolong
Sifat negatifnya bersifat kaku dalam memandang setiap persoalan
BIRU
Seseorang yang pancaran auranya berwarna biru, orang tersebut secara alami mempunyai sifat positf dan antusias
Warna biru biasanya berhati muda, tulus, jujur dan jika bertindak sesuai dengan pikirannya
Mempunyai kebebasan, tidak suka dibatasi atau dilarang
Menyukai perjalanan, menyaksikan tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru, bisa menutupi perasaan dan bisa menyimpan rahasia
Sifat negatifnya kesulitan menyelesaikan tugas
NILA
Sifatnya hangat, menyembuhkan dan mengasuh
Senang memecahkan maslah, senang menolong
Sifat negatifnya ketidakmampuan mengatakan “tidak” sehingga sering dimanfaatkan orang lain
UNGU
Seseorang yang pancaran auranya berwarna ungu, maka ia menyukai kegiatan-kegiatan spiritual dan metafisika
Sifat negatifnya merasa unggul dari yang lain
PERAK
Mempunyai gagasan-gagasan besar, namun sebagian diantaranya tidak praktis
Sering tidak mempunyai motivasi
EMAS
mempunyai kemampuan menangani proyek-proyek dan mempunyai tanggung jawab dalam skala besar
Mempunyai sifat kharismatik, pekerja keras, sabar
Mencapai kesuksesan pada usia lanjut
MERAH JAMBU
Mempunyai sifat yang tegas, keras kepala, cita-citanya tinggi dan mempunyai perencanaan
Secara alami mereka mereka adalah orang-orang sederhana, tidak berlagak, senang menjalankan hidup dengan tenang
PUTIH
Sifatnya tidak menonjolkan diri, sederhana, sangat manusiawi laksana orang-orang suci
Tidak mempunyai sifat ego, lebih tertarik pada kesejahteraan orang lain
Intuitif, bijaksana, idealis dan cinta damai
HITAM
Bila seseorang pancaran auranya berwarna hitam, bisa diartikan orang tersebut diselubungi oleh kemisterian, karena orang ini sifatnya kadang terbuka dan kadang tertutup
Warna hitam bisa diartikan mempunyai sifat yang tidak baik, culas artinya mempunyai maksud jelek terhadap oaring lain yang ditemuinya
Jika warna hitam berkombinasi dengan warna merah, orang tersebut mempunyai sifat yang tidak baik dan jahat
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=305684168&postcount=2797
Jumat, 22 Juli 2011
Dasa Paramita
Dasa Paramita, merupakan Sepuluh Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:
[1] Dana (Beramal, bermurah hati dengan menderma)
[2] Sila (Hidup dalam sila, bermoral baik)
[3] Nekkhama (menghindari diri dari nafsu indriya)
[4] Prajna (Kebijaksanaan, mengetahui sebab dan akibat, memahami keadaan dari sesuatu
berdasarkan kebenaran)
[5] Viriya (Berusaha dengan sekuat tenaga, tidak takut terhadap rintangan)
[6] Kshanti (Kesadaran dengan sabar menghadapi segala sesuatu, mampu mengendalikan
pikiran sehingga dia kelak terbebas dari kekotoran batin)
[7] Sacca (Kebenaran, yakni benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran)
[8] Adhitthana (Tekad yang mantap, memutuskan segala sesuatu dengan tepat sempurna,
dan berbuat sesuai pada waktunya)
[9] Metta (Cinta kasih tanpa keinginan memiliki, cinta kasih yang ditujukan terhadap semua
mahluk di 31 alam kehidupan tanpa membedakan bangsa, ras, agama, dan segala
perbedaan, merupakan cinta kasih yang sempurna)
[10] Upekkha (Batin yang tidak tergoyahkan, merupakan batin yang terarah pada
Kebenaran Hukum Kesunyataan (Dharma))
Untuk mencapai Bodhi, Bodhisattva selain melaksanakan dan menyempurnakan Paramita juga melaksanakan 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma.
Sekarang, apakah 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma itu? Itu adalah demikian:
[1] Empat Dasar Perhatian Benar (Satipatthana)
[2] Empat Usaha Benar (Sammapadhana)
[3] Empat Jalan Penguasaan atau Keberhasilan (Iddhipada)
[4] Lima indera (Indriya)
[5] Lima kekuatan mental (Bala)
[6] Tujuh faktor Penerangan Agung (Bojjhanga)
[7] Delapan Faktor Jalan Utama (Asta Ariya Atthangika Maggha)
Dengan menempuh dan menyempurnakan Dharma ini semua, Bodhisattva ini akan bergelar Mahasattva, mencapai Tingkatan Dasa Bhumi sebagai Megha Dharma sampai akhirnya mencapai Anuttara SamyakSamBuddha. Demikianlah Mahayana yang telah ditunjukkan dan telah dibuktikan sendiri oleh Sang Tathagata. Mahayana merupakan Yana Tunggal yang menjadi alasan utama kemunculan Para Tathagata, yakni mengajar Para Bodhisattva dan memang demikianlah adanya, sebab kata-kata Tathagata adalah murni dan tiada dusta.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450485375&postcount=9396
[1] Dana (Beramal, bermurah hati dengan menderma)
[2] Sila (Hidup dalam sila, bermoral baik)
[3] Nekkhama (menghindari diri dari nafsu indriya)
[4] Prajna (Kebijaksanaan, mengetahui sebab dan akibat, memahami keadaan dari sesuatu
berdasarkan kebenaran)
[5] Viriya (Berusaha dengan sekuat tenaga, tidak takut terhadap rintangan)
[6] Kshanti (Kesadaran dengan sabar menghadapi segala sesuatu, mampu mengendalikan
pikiran sehingga dia kelak terbebas dari kekotoran batin)
[7] Sacca (Kebenaran, yakni benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran)
[8] Adhitthana (Tekad yang mantap, memutuskan segala sesuatu dengan tepat sempurna,
dan berbuat sesuai pada waktunya)
[9] Metta (Cinta kasih tanpa keinginan memiliki, cinta kasih yang ditujukan terhadap semua
mahluk di 31 alam kehidupan tanpa membedakan bangsa, ras, agama, dan segala
perbedaan, merupakan cinta kasih yang sempurna)
[10] Upekkha (Batin yang tidak tergoyahkan, merupakan batin yang terarah pada
Kebenaran Hukum Kesunyataan (Dharma))
Untuk mencapai Bodhi, Bodhisattva selain melaksanakan dan menyempurnakan Paramita juga melaksanakan 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma.
Sekarang, apakah 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma itu? Itu adalah demikian:
[1] Empat Dasar Perhatian Benar (Satipatthana)
[2] Empat Usaha Benar (Sammapadhana)
[3] Empat Jalan Penguasaan atau Keberhasilan (Iddhipada)
[4] Lima indera (Indriya)
[5] Lima kekuatan mental (Bala)
[6] Tujuh faktor Penerangan Agung (Bojjhanga)
[7] Delapan Faktor Jalan Utama (Asta Ariya Atthangika Maggha)
Dengan menempuh dan menyempurnakan Dharma ini semua, Bodhisattva ini akan bergelar Mahasattva, mencapai Tingkatan Dasa Bhumi sebagai Megha Dharma sampai akhirnya mencapai Anuttara SamyakSamBuddha. Demikianlah Mahayana yang telah ditunjukkan dan telah dibuktikan sendiri oleh Sang Tathagata. Mahayana merupakan Yana Tunggal yang menjadi alasan utama kemunculan Para Tathagata, yakni mengajar Para Bodhisattva dan memang demikianlah adanya, sebab kata-kata Tathagata adalah murni dan tiada dusta.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450485375&postcount=9396
Empat Jenis Kamma Berdasarkan Waktu Munculnya Akibat (vipaka) yang Dihasilkan
1. Ditthadhamma vedaniya Kamma yaitu Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) segera mungkin pada waktu kehidupan sekarang. Kamma ini terbagi 2 macam, yaitu :
• Kamma yang memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul atau disebut dengan Paripakka Dittha Dhamma vedaniya Kamma. Contoh : Seorang miskin bernama Punna yang memberikan dana makanan kepada Y A Sariputta Maha Thera menjadi kaya-raya dalam waktu tujuh hari setelah berdana.
• Kamma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari atau disebut dengan Aparipakka Dittha Dhammavedaniya. Contoh : Jika berbuat kebaikan atau kejahatan dalam usia muda, akan dipetik hasil dalam usia muda atau usia tua dalam kehidupan sekarang ini juga.
2. Upajja vedaniya Kamma yaitu Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya yaitu satu kehidupan setelah kehidupan sekarang.
3. Aparapariya vedaniya Kamma yaitu Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya secara berturut-turut.
4. Ahosi Kamma yaitu Kamma yang tidak lagi atau tidak akan memiliki kekuatan untuk menghasilkan akibat (kadaluwarsa). Ahosi Kamma terbentuk ketika kekuatan suatu perbuatan (kamma) terhalangi oleh kekuatan perbuatan (kamma) lain yang sangat besar. Selain itu Ahosi Kamma terbentuk jika tidak adanya kondisi-kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk kamma itu berbuah, sehingga kamma tersebut tidak menghasilkan akibat (vipaka).
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450481813&postcount=9394
• Kamma yang memberikan hasil dalam kehidupan sekarang ini, termasuk yang sudah masak betul atau disebut dengan Paripakka Dittha Dhamma vedaniya Kamma. Contoh : Seorang miskin bernama Punna yang memberikan dana makanan kepada Y A Sariputta Maha Thera menjadi kaya-raya dalam waktu tujuh hari setelah berdana.
• Kamma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari atau disebut dengan Aparipakka Dittha Dhammavedaniya. Contoh : Jika berbuat kebaikan atau kejahatan dalam usia muda, akan dipetik hasil dalam usia muda atau usia tua dalam kehidupan sekarang ini juga.
2. Upajja vedaniya Kamma yaitu Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya yaitu satu kehidupan setelah kehidupan sekarang.
3. Aparapariya vedaniya Kamma yaitu Kamma yang menghasilkan akibat (vipaka) pada kehidupan berikutnya secara berturut-turut.
4. Ahosi Kamma yaitu Kamma yang tidak lagi atau tidak akan memiliki kekuatan untuk menghasilkan akibat (kadaluwarsa). Ahosi Kamma terbentuk ketika kekuatan suatu perbuatan (kamma) terhalangi oleh kekuatan perbuatan (kamma) lain yang sangat besar. Selain itu Ahosi Kamma terbentuk jika tidak adanya kondisi-kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk kamma itu berbuah, sehingga kamma tersebut tidak menghasilkan akibat (vipaka).
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450481813&postcount=9394
KAMMA (Perbuatan)
Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma:
”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”
Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
Dalam Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10 {S 1.227} , Guru Buddha menjelaskan cara bekerjanya kamma :
"Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya".
Dua Jenis Kamma Berdasarkan Sifatnya
Ada dua jenis kamma (perbuatan) berdasarkan sifatnya, yaitu:
1. Kamma Buruk/Jahat (perbuatan buruk/jahat) atau disebut dengan Akusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh dosa (kebencian), lobha (keserakahan), dan moha (kebodohan batin). Contoh: membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dan sebagainya.
2. Kamma Baik (perbuatan baik) atau disebut dengan Kusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa (ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidakbodohan batin). Contoh: berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur, bermeditasi, dan sebagainya.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450480755&postcount=9393
”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”
Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
Dalam Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10 {S 1.227} , Guru Buddha menjelaskan cara bekerjanya kamma :
"Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya".
Dua Jenis Kamma Berdasarkan Sifatnya
Ada dua jenis kamma (perbuatan) berdasarkan sifatnya, yaitu:
1. Kamma Buruk/Jahat (perbuatan buruk/jahat) atau disebut dengan Akusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh dosa (kebencian), lobha (keserakahan), dan moha (kebodohan batin). Contoh: membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dan sebagainya.
2. Kamma Baik (perbuatan baik) atau disebut dengan Kusala Kamma.
yaitu, kamma (perbuatan) yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa (ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidakbodohan batin). Contoh: berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur, bermeditasi, dan sebagainya.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=450480755&postcount=9393
TUJUH KEKAYAAN ARYA (SUCI)
Tujuh kekayaan suci merupakan 7 cara suci untuk mencapai ke Buddhaan.
Menurut Dhammapada,ada 7 macam kekayaan spiritual , yang disebut juga sebagai kekayaan Para Arya.
1.Saddha / Keyakinan -menurut Avatamsaka Sutra :
Keyakinan merupakan ibu dari pahala jalan keBuddhaan, selalu memelihara kelangsungan semua akar kebajikan
Keyakinan adalah dasar dari semua perbuatan bajik, bila diri kita bisa timbul keyakinan/ saddha pada Buddha Dharma, maka dengan alamiah kita akan menjalankan kebajikan sesuai Dharma, dengan alamiah akan menemukan tujuan sejati hidup manusia, sampai memperoleh manfaat yang tiada taranya.
2.Pengetahuan
Seorang Buddhist harus memperoleh pengetahuan mengenai Dharma barulah mampu menapaki jalan ke Buddhaan, inilah yang disebut dengan "banyak belajar, mendengar dan berpengetahuan kemudian tekun berlatih dan memasuki samadhi." Maka langkah pertama sebagai dasar Buddhism kita harus banyak belajar. Namun mempelajari Dharma tidak boleh dengan kesombongan, mengejar hasil kesaktian, pandangan menyimpang, terlebih pikiran melantur. Harus dengan tulus, menghormati, dengan hati tulus mendengar Dharma, barulah bisa berguna. Sedangkan mempelajari Dharma intinya adalah mempelajari sesuatu yang dapat bermanfaat untuk menyucikan hati dan membawa kita pada pencapaian, jadi bukan berarti hanya memenuhi otak dengan teori.
3.Ketekunan
Apapun yang bermanfaat bagi orang lain, hendaknya dilakukan dengan tekun, inilah ketekunan. Dalam Sutra dikatakan " Bila bermalasan di rumah, akan kehilangan segala manfaat duniawi. Bila bermalasan saat jadi biksu, akan kehilangan Mustika Dharma"
Kemalasan adalah penyakit berat kehidupan manusia, hanya bisa diobati dengan ketekunan.
4.Menjalankan Sila
Sila adalah semacam rambu-rambu suatu perbuatan, juga bagaikan rel sebuah kereta, dapat membimbing batin kita berjalanan dalam moralitas , menuju NIrvana pembebasan.
5.Tahu Malu
Sadar diri dan tidak melakukan kejahatan,malu bila timbul pikiran tidak baik. Malu atas ketidak tahuan diri, ketidak mampuan, ketidak lengkapan, kekotoran, moral, serta sifat.
6.Dana
Memberikan milik sendiri pada pihak lain. Termasuk juga dana materi dan dana spiritual. Serta dana abhaya (memberi perlindungan)
7.Samadhi dan Panna
Berkonsentrasi supaya batin tidak tercerai, mengamati segala sesuatu dengan jelas demi memperoleh samadhi dan Panna. Samadhi adalah tubuh dari Panna, sedangkan Panna adalah dihasilkan dari samadhi. Keduanya bagai pelita dengan sinarnya.
Memiliki keyakinan pada Buddha Damma adalah harta kekayaan!sedangkan kekayaan dunia akan ada batasnya, ada masa pasang surutnya suatu hari nanti.... Namun Harta Arya ini selamanya tidak akan musnah. Maka bila kita mengejar kekayaan juga harus mengejar kekayaan Arya ini.
Nammo Tassa Bhagavato Arahata Sammasambuddhassa
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=452383743&postcount=9480
Menurut Dhammapada,ada 7 macam kekayaan spiritual , yang disebut juga sebagai kekayaan Para Arya.
1.Saddha / Keyakinan -menurut Avatamsaka Sutra :
Keyakinan merupakan ibu dari pahala jalan keBuddhaan, selalu memelihara kelangsungan semua akar kebajikan
Keyakinan adalah dasar dari semua perbuatan bajik, bila diri kita bisa timbul keyakinan/ saddha pada Buddha Dharma, maka dengan alamiah kita akan menjalankan kebajikan sesuai Dharma, dengan alamiah akan menemukan tujuan sejati hidup manusia, sampai memperoleh manfaat yang tiada taranya.
2.Pengetahuan
Seorang Buddhist harus memperoleh pengetahuan mengenai Dharma barulah mampu menapaki jalan ke Buddhaan, inilah yang disebut dengan "banyak belajar, mendengar dan berpengetahuan kemudian tekun berlatih dan memasuki samadhi." Maka langkah pertama sebagai dasar Buddhism kita harus banyak belajar. Namun mempelajari Dharma tidak boleh dengan kesombongan, mengejar hasil kesaktian, pandangan menyimpang, terlebih pikiran melantur. Harus dengan tulus, menghormati, dengan hati tulus mendengar Dharma, barulah bisa berguna. Sedangkan mempelajari Dharma intinya adalah mempelajari sesuatu yang dapat bermanfaat untuk menyucikan hati dan membawa kita pada pencapaian, jadi bukan berarti hanya memenuhi otak dengan teori.
3.Ketekunan
Apapun yang bermanfaat bagi orang lain, hendaknya dilakukan dengan tekun, inilah ketekunan. Dalam Sutra dikatakan " Bila bermalasan di rumah, akan kehilangan segala manfaat duniawi. Bila bermalasan saat jadi biksu, akan kehilangan Mustika Dharma"
Kemalasan adalah penyakit berat kehidupan manusia, hanya bisa diobati dengan ketekunan.
4.Menjalankan Sila
Sila adalah semacam rambu-rambu suatu perbuatan, juga bagaikan rel sebuah kereta, dapat membimbing batin kita berjalanan dalam moralitas , menuju NIrvana pembebasan.
5.Tahu Malu
Sadar diri dan tidak melakukan kejahatan,malu bila timbul pikiran tidak baik. Malu atas ketidak tahuan diri, ketidak mampuan, ketidak lengkapan, kekotoran, moral, serta sifat.
6.Dana
Memberikan milik sendiri pada pihak lain. Termasuk juga dana materi dan dana spiritual. Serta dana abhaya (memberi perlindungan)
7.Samadhi dan Panna
Berkonsentrasi supaya batin tidak tercerai, mengamati segala sesuatu dengan jelas demi memperoleh samadhi dan Panna. Samadhi adalah tubuh dari Panna, sedangkan Panna adalah dihasilkan dari samadhi. Keduanya bagai pelita dengan sinarnya.
Memiliki keyakinan pada Buddha Damma adalah harta kekayaan!sedangkan kekayaan dunia akan ada batasnya, ada masa pasang surutnya suatu hari nanti.... Namun Harta Arya ini selamanya tidak akan musnah. Maka bila kita mengejar kekayaan juga harus mengejar kekayaan Arya ini.
Nammo Tassa Bhagavato Arahata Sammasambuddhassa
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=452383743&postcount=9480
Kekuatan Batin Sang Buddha
Banyak dari siswa Sang Buddha yang memiliki 6 kekuatan batin tersebut. Sang Buddha sendiri juga memiliki keenam Abhinna tersebut secara lengkap dan sempurna, tetapi tentunya bukan hanya itu saja. Sang Buddha juga memiliki 10 rangkaian Pandangan Terang dari Tathagata (Dasabala Buddha), sebagai berikut:
1. Beliau mengetahui apa yang mungkin sebagai mungkin, dan yang tidak mungkin sebagai tidak mungkin. Misalnya beliau mengetahui bahwa tidak mungkin Sankhara itu kekal (permanen), dan tidak mungkin bahwa yang telah lahir tidak akan mati..
2. Beliau mengetahui dengan benar masaknya buah karma dari yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang, apa yang bakal terjadi dan apa penyebabnya.
3. Beliau mengetahui dengan benar ke alam kehidupan yang mana cara hidup tertentu menuju, misalnya perilaku tertentu menuju neraka, perilaku lain akan mengakibatkan kelahiran di alam binatang dan sebagainya.
4. Beliau mengetahui sifat dan unsur-unsur dari alam semesta
5. Beliau mengetahui berbagai tingkat perkembangan dari individu
6. Beliau mengetahui karakter dan kemampuan dari individu
7. Beliau mengetahui pencapaian pandangan terang dan Jhana, juga kemundurannya
8. Beliau mengetahui kelahiran kelahiran yang lampau dari makhluk makhluk
9. Beliau mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk sesuai dengan karmanya.
10. Beliau memiliki pandangan terang untuk menghancurkan kekotoran batin seketika dan untuk selamanya.
Inilah kesepuluh kekuatan dari kebajikan Sang Buddha yang berupa Pandangan Terang yang menempatkan Beliau sebagai pemimpin dunia dan pemutar roda Dhamma. Di samping itu masih ada lagi kemampuan khusus dari Sang Buddha, sebagai berikut:
1. Indriya-Paro-Pariyatti-Nana: mengetahui tingkat perkembangan Saddha (keyakinan), Viriya (semangat/kegigihan), Sati (kesadaran penuh), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan / pandangan terang) dari seseorang sehingga Sang Buddha bisa memberikan kotbah yang sesuai.
2. Asaya-Anusaya-Nana: menemukan kecenderungan atau bakat lampau terpendam dalam diri seseorang.
3. Anavarama-Nana: Pandangan yang tak terhalangi
4. Sabbannuta-Nana: Dengan kemahatahuan ini, Sang Buddha mengetahui semua tentang lima hal:
- Sankhara, bagaimana Terbentuknya
-Vikara, bagaimana lenyapnya
- Nibbana
- Lakkhanabagaimana corak universal anicca, dukkha, anatta (ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa diri)
- Pragnapti, semua tentang kebenaran konvensional, seperti: konsep orang,makhluk, kursi, gunung, dan seterusnya.
5. Maha-Karuna-Nana : Beliau mempunyai kasih sayang yang universal.
6. Yamaka-Patiaraya-Nana: Sang Buddha memiliki 5 Cakkhu (mata)
- Mansa-Cakkhu atau mata jasmani biasa yang dapat melihat benda sangat kecil dari jarak yang sangat jauh.
- Dibba-Cakkhu atau mata batin yang dapat melihat bagaimana makhluk lahir dan mati (disebut juga Catupapata-nana)
- Buddha-Cakkhu atau mata Buddha. Ini adalah gabungan dari Indriya-Paro-Pariyatti-Nana dan Asaya-Anusaya-Nana
- Panna-Cakkhu atau mata kebijaksanaan. Ini adalah Vipassana-Nana
- Samanta-Cakkhu atau mata pengetahuan tanpa batas. Ini adalah Sabbannuta-nana.
Di luar itu semua masih ada lagi 18 faktor luar biasa dalam diri Sammasambuddha (18 avenikadharma), yaitu:
1. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa lampau.
2. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa sekarang
3. Setiap Buddha memiliki pandangan terang yang tak terhalangi akan masa yang akan datang
4. Semua perbuatan jasmani dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
5. Semua ucapan dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
6. Semua kegiatan pikiran Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
7. Tidak ada apapun yang dapat menentang kehendak Sang Buddha
8. Tidak ada yang dapat merintangi pencapaian konsentrasi dari Sang Buddha
9. Tidak ada yang dapat merintangi pengetahuan Sang Buddha melalui pandangan terang
10. Tidak ada yang dapat merintangi Kebebasan Sang Buddha
11. Tidak ada yang dapat menghalangi upaya Sang Buddha
12. Tidak ada yang dapat menghalangi Sang Buddha dalam mengajarkan Dhamma
13. Tidak ada unsur kelengahan ataupun sifat main-main dalam diri Sang Buddha
14. Sang Buddha tidak berisik
15. Sang Buddha tidak menunjukkan reaksi jasmani sehubungan perasaan gembira
16. Sang Buddha tidak pernah terburu-buru dalam setiap tindak tanduknya, selalu tenang dan terkontrol.
17. Sang Buddha tidak terlibat dengan kegiatan yang tidak berguna
18. Sang Buddha tidak pernah bersikap tidak peduli yang didasarkan kegelapan batin.
Demikianlah daftar kekuatan Sang Buddha Gotama yang tentunya juga merupakan daftar kekuatan standar bagi setiap Sammasambuddha dari segala masa.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458498790&postcount=9734
1. Beliau mengetahui apa yang mungkin sebagai mungkin, dan yang tidak mungkin sebagai tidak mungkin. Misalnya beliau mengetahui bahwa tidak mungkin Sankhara itu kekal (permanen), dan tidak mungkin bahwa yang telah lahir tidak akan mati..
2. Beliau mengetahui dengan benar masaknya buah karma dari yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang, apa yang bakal terjadi dan apa penyebabnya.
3. Beliau mengetahui dengan benar ke alam kehidupan yang mana cara hidup tertentu menuju, misalnya perilaku tertentu menuju neraka, perilaku lain akan mengakibatkan kelahiran di alam binatang dan sebagainya.
4. Beliau mengetahui sifat dan unsur-unsur dari alam semesta
5. Beliau mengetahui berbagai tingkat perkembangan dari individu
6. Beliau mengetahui karakter dan kemampuan dari individu
7. Beliau mengetahui pencapaian pandangan terang dan Jhana, juga kemundurannya
8. Beliau mengetahui kelahiran kelahiran yang lampau dari makhluk makhluk
9. Beliau mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk sesuai dengan karmanya.
10. Beliau memiliki pandangan terang untuk menghancurkan kekotoran batin seketika dan untuk selamanya.
Inilah kesepuluh kekuatan dari kebajikan Sang Buddha yang berupa Pandangan Terang yang menempatkan Beliau sebagai pemimpin dunia dan pemutar roda Dhamma. Di samping itu masih ada lagi kemampuan khusus dari Sang Buddha, sebagai berikut:
1. Indriya-Paro-Pariyatti-Nana: mengetahui tingkat perkembangan Saddha (keyakinan), Viriya (semangat/kegigihan), Sati (kesadaran penuh), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan / pandangan terang) dari seseorang sehingga Sang Buddha bisa memberikan kotbah yang sesuai.
2. Asaya-Anusaya-Nana: menemukan kecenderungan atau bakat lampau terpendam dalam diri seseorang.
3. Anavarama-Nana: Pandangan yang tak terhalangi
4. Sabbannuta-Nana: Dengan kemahatahuan ini, Sang Buddha mengetahui semua tentang lima hal:
- Sankhara, bagaimana Terbentuknya
-Vikara, bagaimana lenyapnya
- Nibbana
- Lakkhanabagaimana corak universal anicca, dukkha, anatta (ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa diri)
- Pragnapti, semua tentang kebenaran konvensional, seperti: konsep orang,makhluk, kursi, gunung, dan seterusnya.
5. Maha-Karuna-Nana : Beliau mempunyai kasih sayang yang universal.
6. Yamaka-Patiaraya-Nana: Sang Buddha memiliki 5 Cakkhu (mata)
- Mansa-Cakkhu atau mata jasmani biasa yang dapat melihat benda sangat kecil dari jarak yang sangat jauh.
- Dibba-Cakkhu atau mata batin yang dapat melihat bagaimana makhluk lahir dan mati (disebut juga Catupapata-nana)
- Buddha-Cakkhu atau mata Buddha. Ini adalah gabungan dari Indriya-Paro-Pariyatti-Nana dan Asaya-Anusaya-Nana
- Panna-Cakkhu atau mata kebijaksanaan. Ini adalah Vipassana-Nana
- Samanta-Cakkhu atau mata pengetahuan tanpa batas. Ini adalah Sabbannuta-nana.
Di luar itu semua masih ada lagi 18 faktor luar biasa dalam diri Sammasambuddha (18 avenikadharma), yaitu:
1. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa lampau.
2. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa sekarang
3. Setiap Buddha memiliki pandangan terang yang tak terhalangi akan masa yang akan datang
4. Semua perbuatan jasmani dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
5. Semua ucapan dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
6. Semua kegiatan pikiran Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
7. Tidak ada apapun yang dapat menentang kehendak Sang Buddha
8. Tidak ada yang dapat merintangi pencapaian konsentrasi dari Sang Buddha
9. Tidak ada yang dapat merintangi pengetahuan Sang Buddha melalui pandangan terang
10. Tidak ada yang dapat merintangi Kebebasan Sang Buddha
11. Tidak ada yang dapat menghalangi upaya Sang Buddha
12. Tidak ada yang dapat menghalangi Sang Buddha dalam mengajarkan Dhamma
13. Tidak ada unsur kelengahan ataupun sifat main-main dalam diri Sang Buddha
14. Sang Buddha tidak berisik
15. Sang Buddha tidak menunjukkan reaksi jasmani sehubungan perasaan gembira
16. Sang Buddha tidak pernah terburu-buru dalam setiap tindak tanduknya, selalu tenang dan terkontrol.
17. Sang Buddha tidak terlibat dengan kegiatan yang tidak berguna
18. Sang Buddha tidak pernah bersikap tidak peduli yang didasarkan kegelapan batin.
Demikianlah daftar kekuatan Sang Buddha Gotama yang tentunya juga merupakan daftar kekuatan standar bagi setiap Sammasambuddha dari segala masa.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458498790&postcount=9734
Kekuatan Batin
Pada tingkatan intelektual, kita mengenal yang namanya kekuatan sugesti, kekuatan doa, kekuatan tekad atau kemauan dan sebagainya yang semuanya tidak dibahas pada kesempatan ini. Kemudian pada tingkat batin yang lebih dalam ada kekuatan batin lain yang jauh lebih canggih seperti yang dikenal dalam literatur Buddhis, ada enam kekuatan batin (Abhinana), yaitu:
1. Kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau (Pubbenivasanussati nana)
2. Mata batin yang mampu melihat berbagai alam halus dan melihat muncul dan lenyapnya makhluk yang bertumimbal lahir sesuai kammanya masing masing (Dibbacakkhunana)
3. Kemampuan untuk membasmi Asava atau kekotoran batin (Asavakkhaya nana)
4. Kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain (Cetopariya nana)
5. Telinga batin yang mampu untuk mendengar suara dari makhluk makhluk di alam setan, alam asura, alam neraka, alam dewa dan alam brahma (Dibbasota nana)
6. Kemampuan "magis" yang terdiri dari:
- Kemampuan mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak dan dari banyak menjadi satu, yang dilakukan dengan kekuatan kehendak (Adhitthana-iddhi)
- Kemampuan untuk menyalin rupa menjadi rupa lain misalnya menjadi anak kecil, menjadi raksasa, juga membuat diri menjadi tak tampak (Vikubbhana-iddhi)
- Kemampuan mencipta dengan kekuatan pikiran, misalnya: menciptakan harimau, singa, pohon, dewa dewi dan lainnya. (Manomaya-iddhi)
- Kemampuan pengetahuan menembus Ajaran (Nanavipphara-iddhi)
- Konsentrasi tingkat lebih jauh (Samadhivipphara-iddhi) yang memiliki:
* kemampuan menembus dinding, tanah, dan gunung
* kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan ke dalam air
* kemampuan berjalan di atas air
* kemampuan melawan api
* kemampuan terbang di angkasa
Asavakkhaya-nana disebut sebagai Lokuttara-abhinna (melampaui duniawi), sedangkan kelima nana lainnya disebut Lokiya-abhinna. Orang yang dapat memiliki keenam Abhinana (kekuatan batin) tersebut secara lengkap harus mempunyai syarat-syarat tertentu yaitu mempunyai Samapatti 8 (Rupajhana 4 dan Arupajhana 4), juga harus mahir dalam Jhana. Tentunya ada juga orang-orang lain yang tidak memenuhi syarat itu tetapi tetap dapat memiliki satu atau beberapa dari keenam kekuatan batin itu ataupun juga berbagai variasi ilmu dan modifikasi bentuk dari kekuatan batin tersebut dalam berbagai tingkat kemahiran. Tentunya dengan dukungan dari benih karma lampau yang sesuai dan dengan ditunjang intensitas latihan yang memadai dan terarah.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458497388&postcount=9733
1. Kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau (Pubbenivasanussati nana)
2. Mata batin yang mampu melihat berbagai alam halus dan melihat muncul dan lenyapnya makhluk yang bertumimbal lahir sesuai kammanya masing masing (Dibbacakkhunana)
3. Kemampuan untuk membasmi Asava atau kekotoran batin (Asavakkhaya nana)
4. Kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain (Cetopariya nana)
5. Telinga batin yang mampu untuk mendengar suara dari makhluk makhluk di alam setan, alam asura, alam neraka, alam dewa dan alam brahma (Dibbasota nana)
6. Kemampuan "magis" yang terdiri dari:
- Kemampuan mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak dan dari banyak menjadi satu, yang dilakukan dengan kekuatan kehendak (Adhitthana-iddhi)
- Kemampuan untuk menyalin rupa menjadi rupa lain misalnya menjadi anak kecil, menjadi raksasa, juga membuat diri menjadi tak tampak (Vikubbhana-iddhi)
- Kemampuan mencipta dengan kekuatan pikiran, misalnya: menciptakan harimau, singa, pohon, dewa dewi dan lainnya. (Manomaya-iddhi)
- Kemampuan pengetahuan menembus Ajaran (Nanavipphara-iddhi)
- Konsentrasi tingkat lebih jauh (Samadhivipphara-iddhi) yang memiliki:
* kemampuan menembus dinding, tanah, dan gunung
* kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan ke dalam air
* kemampuan berjalan di atas air
* kemampuan melawan api
* kemampuan terbang di angkasa
Asavakkhaya-nana disebut sebagai Lokuttara-abhinna (melampaui duniawi), sedangkan kelima nana lainnya disebut Lokiya-abhinna. Orang yang dapat memiliki keenam Abhinana (kekuatan batin) tersebut secara lengkap harus mempunyai syarat-syarat tertentu yaitu mempunyai Samapatti 8 (Rupajhana 4 dan Arupajhana 4), juga harus mahir dalam Jhana. Tentunya ada juga orang-orang lain yang tidak memenuhi syarat itu tetapi tetap dapat memiliki satu atau beberapa dari keenam kekuatan batin itu ataupun juga berbagai variasi ilmu dan modifikasi bentuk dari kekuatan batin tersebut dalam berbagai tingkat kemahiran. Tentunya dengan dukungan dari benih karma lampau yang sesuai dan dengan ditunjang intensitas latihan yang memadai dan terarah.
sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458497388&postcount=9733
Langganan:
Postingan (Atom)