Jumat, 22 Juli 2011

Kekuatan Batin Sang Buddha

Banyak dari siswa Sang Buddha yang memiliki 6 kekuatan batin tersebut. Sang Buddha sendiri juga memiliki keenam Abhinna tersebut secara lengkap dan sempurna, tetapi tentunya bukan hanya itu saja. Sang Buddha juga memiliki 10 rangkaian Pandangan Terang dari Tathagata (Dasabala Buddha), sebagai berikut:

1. Beliau mengetahui apa yang mungkin sebagai mungkin, dan yang tidak mungkin sebagai tidak mungkin. Misalnya beliau mengetahui bahwa tidak mungkin Sankhara itu kekal (permanen), dan tidak mungkin bahwa yang telah lahir tidak akan mati..
2. Beliau mengetahui dengan benar masaknya buah karma dari yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang, apa yang bakal terjadi dan apa penyebabnya.

3. Beliau mengetahui dengan benar ke alam kehidupan yang mana cara hidup tertentu menuju, misalnya perilaku tertentu menuju neraka, perilaku lain akan mengakibatkan kelahiran di alam binatang dan sebagainya.
4. Beliau mengetahui sifat dan unsur-unsur dari alam semesta
5. Beliau mengetahui berbagai tingkat perkembangan dari individu
6. Beliau mengetahui karakter dan kemampuan dari individu
7. Beliau mengetahui pencapaian pandangan terang dan Jhana, juga kemundurannya
8. Beliau mengetahui kelahiran kelahiran yang lampau dari makhluk makhluk
9. Beliau mengetahui kematian dan kelahiran kembali makhluk sesuai dengan karmanya.
10. Beliau memiliki pandangan terang untuk menghancurkan kekotoran batin seketika dan untuk selamanya.

Inilah kesepuluh kekuatan dari kebajikan Sang Buddha yang berupa Pandangan Terang yang menempatkan Beliau sebagai pemimpin dunia dan pemutar roda Dhamma. Di samping itu masih ada lagi kemampuan khusus dari Sang Buddha, sebagai berikut:

1. Indriya-Paro-Pariyatti-Nana: mengetahui tingkat perkembangan Saddha (keyakinan), Viriya (semangat/kegigihan), Sati (kesadaran penuh), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan / pandangan terang) dari seseorang sehingga Sang Buddha bisa memberikan kotbah yang sesuai.
2. Asaya-Anusaya-Nana: menemukan kecenderungan atau bakat lampau terpendam dalam diri seseorang.
3. Anavarama-Nana: Pandangan yang tak terhalangi
4. Sabbannuta-Nana: Dengan kemahatahuan ini, Sang Buddha mengetahui semua tentang lima hal:
- Sankhara, bagaimana Terbentuknya
-Vikara, bagaimana lenyapnya
- Nibbana
- Lakkhanabagaimana corak universal anicca, dukkha, anatta (ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa diri)
- Pragnapti, semua tentang kebenaran konvensional, seperti: konsep orang,makhluk, kursi, gunung, dan seterusnya.
5. Maha-Karuna-Nana : Beliau mempunyai kasih sayang yang universal.
6. Yamaka-Patiaraya-Nana: Sang Buddha memiliki 5 Cakkhu (mata)
- Mansa-Cakkhu atau mata jasmani biasa yang dapat melihat benda sangat kecil dari jarak yang sangat jauh.
- Dibba-Cakkhu atau mata batin yang dapat melihat bagaimana makhluk lahir dan mati (disebut juga Catupapata-nana)
- Buddha-Cakkhu atau mata Buddha. Ini adalah gabungan dari Indriya-Paro-Pariyatti-Nana dan Asaya-Anusaya-Nana
- Panna-Cakkhu atau mata kebijaksanaan. Ini adalah Vipassana-Nana
- Samanta-Cakkhu atau mata pengetahuan tanpa batas. Ini adalah Sabbannuta-nana.

Di luar itu semua masih ada lagi 18 faktor luar biasa dalam diri Sammasambuddha (18 avenikadharma), yaitu:

1. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa lampau.
2. Setiap Buddha memiliki pengetahuan yang tak terhalangi akan masa sekarang
3. Setiap Buddha memiliki pandangan terang yang tak terhalangi akan masa yang akan datang
4. Semua perbuatan jasmani dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
5. Semua ucapan dari Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
6. Semua kegiatan pikiran Sang Buddha didahului oleh pandangan terang
7. Tidak ada apapun yang dapat menentang kehendak Sang Buddha
8. Tidak ada yang dapat merintangi pencapaian konsentrasi dari Sang Buddha
9. Tidak ada yang dapat merintangi pengetahuan Sang Buddha melalui pandangan terang
10. Tidak ada yang dapat merintangi Kebebasan Sang Buddha
11. Tidak ada yang dapat menghalangi upaya Sang Buddha
12. Tidak ada yang dapat menghalangi Sang Buddha dalam mengajarkan Dhamma
13. Tidak ada unsur kelengahan ataupun sifat main-main dalam diri Sang Buddha
14. Sang Buddha tidak berisik
15. Sang Buddha tidak menunjukkan reaksi jasmani sehubungan perasaan gembira
16. Sang Buddha tidak pernah terburu-buru dalam setiap tindak tanduknya, selalu tenang dan terkontrol.
17. Sang Buddha tidak terlibat dengan kegiatan yang tidak berguna
18. Sang Buddha tidak pernah bersikap tidak peduli yang didasarkan kegelapan batin.

Demikianlah daftar kekuatan Sang Buddha Gotama yang tentunya juga merupakan daftar kekuatan standar bagi setiap Sammasambuddha dari segala masa.

sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458498790&postcount=9734

Kekuatan Batin

Pada tingkatan intelektual, kita mengenal yang namanya kekuatan sugesti, kekuatan doa, kekuatan tekad atau kemauan dan sebagainya yang semuanya tidak dibahas pada kesempatan ini. Kemudian pada tingkat batin yang lebih dalam ada kekuatan batin lain yang jauh lebih canggih seperti yang dikenal dalam literatur Buddhis, ada enam kekuatan batin (Abhinana), yaitu:

1. Kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang lampau (Pubbenivasanussati nana)
2. Mata batin yang mampu melihat berbagai alam halus dan melihat muncul dan lenyapnya makhluk yang bertumimbal lahir sesuai kammanya masing masing (Dibbacakkhunana)
3. Kemampuan untuk membasmi Asava atau kekotoran batin (Asavakkhaya nana)
4. Kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain (Cetopariya nana)
5. Telinga batin yang mampu untuk mendengar suara dari makhluk makhluk di alam setan, alam asura, alam neraka, alam dewa dan alam brahma (Dibbasota nana)
6. Kemampuan "magis" yang terdiri dari:
- Kemampuan mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak dan dari banyak menjadi satu, yang dilakukan dengan kekuatan kehendak (Adhitthana-iddhi)
- Kemampuan untuk menyalin rupa menjadi rupa lain misalnya menjadi anak kecil, menjadi raksasa, juga membuat diri menjadi tak tampak (Vikubbhana-iddhi)
- Kemampuan mencipta dengan kekuatan pikiran, misalnya: menciptakan harimau, singa, pohon, dewa dewi dan lainnya. (Manomaya-iddhi)
- Kemampuan pengetahuan menembus Ajaran (Nanavipphara-iddhi)
- Konsentrasi tingkat lebih jauh (Samadhivipphara-iddhi) yang memiliki:
* kemampuan menembus dinding, tanah, dan gunung
* kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan ke dalam air
* kemampuan berjalan di atas air
* kemampuan melawan api
* kemampuan terbang di angkasa

Asavakkhaya-nana disebut sebagai Lokuttara-abhinna (melampaui duniawi), sedangkan kelima nana lainnya disebut Lokiya-abhinna. Orang yang dapat memiliki keenam Abhinana (kekuatan batin) tersebut secara lengkap harus mempunyai syarat-syarat tertentu yaitu mempunyai Samapatti 8 (Rupajhana 4 dan Arupajhana 4), juga harus mahir dalam Jhana. Tentunya ada juga orang-orang lain yang tidak memenuhi syarat itu tetapi tetap dapat memiliki satu atau beberapa dari keenam kekuatan batin itu ataupun juga berbagai variasi ilmu dan modifikasi bentuk dari kekuatan batin tersebut dalam berbagai tingkat kemahiran. Tentunya dengan dukungan dari benih karma lampau yang sesuai dan dengan ditunjang intensitas latihan yang memadai dan terarah.

sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=458497388&postcount=9733

Jalan Mulia Berunsur Delapan

Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga) 
terdiri dari:

Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
Pengertian Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan pengertian terhadap Empat Kesunyataan Mulia (dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan untuk melenyapkan dukkha).

Pikiran Benar (Sammã Sankappa)

Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari hawa nafsu (raga), kemauan buruk (byapada), kekejaman (vihimsa), dan semacamnya.

Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã).

Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)

Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.

Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari, yaitu: makhluk hidup, senjata, daging, minum-minuman keras, dan racun" (Anguttara Nikaya, III, 153).

Usaha Benar (Sammã Vãyama)

Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.

Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhãvanã. Tingkatan-tingkatan konsentrasi dalam pemusatan pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam empat proses pencapaian Jhana, yaitu:
Bebas dari nafsu-nafsu indria dan pikiran jahat, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna pertama, di mana vitakka (penempatan pikiran pada objek) dan vicãra (mempertahankan pikiran pada objek) masih ada, yang disertai dengan kegiuran dan kesenagan (piti dan sukha).
Dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna kedua, yang merupakan ketenangan batin, bebas dari vitakka dan vicãra, memiliki kegiuran (piti) dan kesenangan (sukha) yang timbul dari konsentrasi.
Dengan meninggalkan kegiuran, ia berdiam dalam ketenangan, penuh perhatian dan sadar, dan merasakan tubuhnya dalam keadaan senang. Dia masuk dan berdiam dalam Jhãna ketiga.
Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan, dia memasuki dan berdiam dalam Jhãna keempat, keadaan yang benar-benar tenang dan penuh kesadaran di mana kesenangan dan kesedihan tidak dapat muncul dalam dirinya. 


sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=369697461&postcount=5684

Syarat memasuki jalan Bodhisatva

Harus menyatakan tekadnya di depan seorang "Buddha" dan, ia haruslah

Seorang yang ingin mengendarai Mahayana menjadi Bodhisattva harus memenuhi delapan syarat sebelum melakukan Pernyataan Abhiniharakarana. Apakah delapan syarat itu? Dalam Buddhavamsa Atthakatha ii, 59 dan 75, demikianlah delapan syarat tersebut;
[1] Dia adalah seorang manusia,
[2] Dia adalah laki-laki,
[3] mempunyai kemampuan untuk menjadi Arhantah pada kehidupan itu juga,
[4] sebagai Pertapa pada waktu melakukan Pernyataan Abhiniharakarana,
[5] Dia harus menyatakan Pernyataan Abhiniharakarana nya didepan SamyakSamBuddha,
[6] Dia harus mencapai tingkat-tingkat Jhana,
[7] Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu termasuk dirinya sendiri,
[8] Pernyataan Abhiniharakarana nya adalah Teguh dan Tidak Tergoyahkan.

Bodhisattva berjuang untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha dengan cara menyempurnakan Sad Paramita dan Dasa Paramita. Sekarang, apakah Sad Paramita dan Dasa Paramita itu?

Demikianlah Sad Paramita, Enam Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:
[1] Dana (Memberikan suatu persembahan)
[2] Sila (aturan moralitas)
[3] Kshanti (Kesabaran)
[4] Viriya (Semangat)
[5] Dhyana (Samadhi)
[6] Prajna (Kebijaksanaan)

sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=355370602&postcount=4815

Kenalilah Bodhisattva

oleh: Tim Rohani KMBUI XV

Begitu banyak Bodhisattva yang kita puja. Namun, akan lebih baik kita mengenal lebih dekat siapa mereka. Pada kesempatan ini, penulis ingin memberikan informasi tentang beberapa Bodhisattva yang mungkin kita puja, tetapi kita masih kurang jelas tentang mereka. Di dalam ajaran Buddha, Bodhisattva (Pali: Bodhisatta) adalah seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk mencapai pencerahan. Dari asal katanya, Bodhi berarti “pencerahan” dan Sattva berarti “menjadi”, dan dapat juga merujuk pada Buddha dalam kehidupan lampaunya. Dalam tradisi Mahayana, Bodhisattva akan berusaha menjadi Buddha agar memiliki kemampuan terbaik untuk menolong semua makhluk. Begitu banyaknya jumlah Bodhisattva, berikut ini hanya beberapa contoh Bodhisattva yang pada umumnya kita puja:

1. Akasagarbha Bodhisattva (虛空藏菩薩 :Xūkōngzàng púsà), adalah salah satu dari delapan Bodhisattva besar. Mantranya: Namo Akasagarbhaya om ārya kamari mauli svāhā. Mantra ini dipercaya dapat meningkatkan kebijaksanaan bagi mereka yang membacanya.

2. Avalokitesvara atau Chenrezig (觀音 :Guānyīn), adalah Bodhisattva yang mewakili welas aih para Buddha. Dilihat dari asal katanya, Avalokota (tertampak) dan Isvara (Tuhan) dan dalam bahasa Mandari diterjemahkan sebagai Bodhisattva yang melihat dan mendengar suara dunia. Mantranya: Om Mani Padme Hum. Avalokitesvara berikrar tidak akan pernah istirahat sampai semua makhluk bebas dari samsara.

3. Mahasthamaprapta (大勢至 Da Shì Zhì), adalah Bodhisattva yang melambangkan kekuatan kebijaksanaan dan sering digambarkan bersama Avalokitesvara dan Amitabha. Tidak seperti Bodhisattva lainnya, nama Bodhisattva ini umumnya kurang dikenal. Dalam Shurangama Sutra, Mahasthamaprapta menceritakan bagaimana Beliau mendapatkan pencerahan melalui pelafalan Buddha, atau kesadaran murni terhadap Buddha secara berlanjut, untuk mencapai Samadhi.

4. Ksitigarbha (地藏王菩薩: Dìzàng Wáng Púsà), dapat diterjemahkan sebagai “Bumi tempat menyimpan ke-sepuluh sutra). Ksitigarbha sering digambarkan dengan mahkota yang terdapat Dhyani Buddha dan memgang tongkat. Bodhisattva ini memiliki ikrar, sebagai berikut: “Jika neraka tidak kosong, maka tidak akan menjadi Buddha.”

5. Maitreya, adalah Buddha yang akan datang, yang akan muncul di dunia, mencapai pencerahan, dan mengajarkan Dharma. Maitreya diturunkan dari kata maîtri, yang berarti cinta kasih. Bhiksu Pu Tai, yang hidup pada zaman Dinasti Tang. Mantranya: Om maitri maitreya maha karuna ye.

6. Manjusri (文殊師利菩薩: Wénshūshili Púsà), adalah dikenal sebagai Pangeran Dharma. Beliau mewakili kebijaksanaan, intelejensi, dan realisasi. Beliau juga disebut Manjughosa. Beliau digambarkan memegang pedang di tangan kanan yang melambangkan realisasi kebijaksanaan dan menolak pandangan salah. Mantranya: Om Ah Ra Pa Tsa Na Dhih, dipercaya memperkuat kebijaksanaan dan meningkatkan keahlian mengingat, berdebat, menulis, dan menjelaskan.

7. Samantabhadra (普賢菩薩: Pŭxián púsà), adalah Raja Kebenaran yang melambangkan praktek dan meditasi semua Buddha. Di dalam Avatamsaka Sutra, dijelaskan bahwa Beliau membuat sepuluh ikrar yang menjadi dasar praktek Bodhisattva.

8. Vajrapani (permata di tangan), adalah salah satu dari Bodhisattva terawal di tradisi Mahayana. Beliau adalah pelindung dan pemandu Buddha, melambangkan kekuatan Buddha. Vajrapani menjadi salah satu dari tiga sifat Buddha, yaitu melambangkan kekuatan. Selain itu, terdapat Avalokitesvara yang melambangkan welas asih dan Manjusri yang melambangkan kebijaksanaan.

9. Tara atau Arya Tara (Tibetan: Jetsun Dolma), umumnya leboh dikenal dalam Budhisme Tibetan. Beliau adalah ibu pembebas dan melambangkan kesuksesan dalam aktivitas dan pencapaian. Tara memiliki berbagai bentuk seperti: Tara Hijau, Putih, Merah, Hitam, Kuning, Biru, Cittamani, dan Khadiravani. Mantra Tara: Om Tare Tu Tare Ture Svaha

10. Skanda Bodhisattva, (韋馱菩薩; Wei Tuo Pu Sa), sebagai Bodhisattva yang dihormati sebagai penjaga Dharma di monastery. Beliau adalah satu dari dua puluh empat Bodhisattva penjaga. Dalam sutra Cina, biasanya gambar Bodhisattva ini ditemukan di akhir, mengingat ikrarnya untuk melindungi Dharma.

11. Sangharama Bodhisattva (伽藍菩薩: Qíelán Púsà), dihormati sebagai Bodhisattva dan pelindung Dharma. Beliau adalah penjaga vihara dan rupangnya berada di sebelah kiri, berlawanan dengan Skanda Bodhisattva yang berada di kanan.

Selain di atas, masih banyak lagi nama-nama Bodhisattva yang dipuja dan dihormati. Namun, sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa selain melakukan pemujaan, kita harus meneladani sifat-sifat Mereka. Kita menjadikan Mereka figur, berjuang tanpa henti untuk menjadi seperti Mereka demi menolong semua makhluk bebas dari lautan penderitaan menuju ke pantai seberang.

Dedikasi:
“Semoga lenyaplah tiga kumpulan karma buruk yang menjengkelkan”
“Semoga memperoleh kebijaksanaan dan kesadaran yang nyata”
“Semoga semua hambatan dan karma buruk lenyap”
“Semoga senantiasa hidup melaksanakan Jalan Bodhisattva”

sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=350297855&postcount=4464

3 Jalan Bodhisattva

Bodhisattva ada 3 jalan;

Bodhisattva adalah Mahluk yang bercita-cita dan melaksanakan Dharma Niyoga Tertinggi untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha dengan mengendarai Mahayana.

Dalam Sutanta Pitake, Samyutta Nikaya Atthakatha i. 47, Bodhisattva digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu:

[1]Prajnadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Prajna (Kebijaksanaan) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Pannadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Empat Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

[2]Sraddhadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Sraddha (Keyakinan) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Sraddhadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Delapan Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

[3]Viriyadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Viriya (Semangat) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Viriyadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Enam Belas Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

Saat pertama sekali mengendarai Mahayana, Bodhisattva mengawali perjuangannya menuju ke Nirvana sejati dengan membuat Pernyataan Abhiniharakarana atau Mulapanidhana didepan Seorang SamyakSamBuddha demi kesejahteraan dan kebebasan semua mahluk pada masa yang akan datang. Abhiniharakarana didahului oleh suatu masa ketika Bodhisattva melaksanakan manopanidhi (Pernyataan tekad keinginan untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha tanpa menyatakannya kepada orang lain).

Seorang yang ingin mengendarai Mahayana menjadi Bodhisattva harus memenuhi delapan syarat sebelum melakukan Pernyataan Abhiniharakarana. Apakah delapan syarat itu? Dalam Buddhavamsa Atthakatha ii, 59 dan 75, demikianlah delapan syarat tersebut;
[1] Dia adalah seorang manusia,
[2] Dia adalah laki-laki,
[3] mempunyai kemampuan untuk menjadi Arhantah pada kehidupan itu juga,
[4] sebagai Pertapa pada waktu melakukan Pernyataan Abhiniharakarana,
[5] Dia harus menyatakan Pernyataan Abhiniharakarana nya didepan SamyakSamBuddha,
[6] Dia harus mencapai tingkat-tingkat Jhana,
[7] Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu termasuk dirinya sendiri,
[8] Pernyataan Abhiniharakarana nya adalah Teguh dan Tidak Tergoyahkan.

Bodhisattva berjuang untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha dengan cara menyempurnakan Sad Paramita dan Dasa Paramita. Sekarang, apakah Sad Paramita dan Dasa Paramita itu?

Demikianlah Sad Paramita, Enam Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:
[1] Dana (Memberikan suatu persembahan)
[2] Sila (aturan moralitas)
[3] Kshanti (Kesabaran)
[4] Viriya (Semangat)
[5] Dhyana (Samadhi)
[6] Prajna (Kebijaksanaan)


Dasa Paramita, merupakan Sepuluh Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:

[1] Dana (Beramal, bermurah hati dengan menderma)
[2] Sila (Hidup dalam sila, bermoral baik)
[3] Nekkhama (menghindari diri dari nafsu indriya)
[4] Prajna (Kebijaksanaan, mengetahui sebab dan akibat, memahami keadaan dari sesuatu
berdasarkan kebenaran)
[5] Viriya (Berusaha dengan sekuat tenaga, tidak takut terhadap rintangan)
[6] Kshanti (Kesadaran dengan sabar menghadapi segala sesuatu, mampu mengendalikan
pikiran sehingga dia kelak terbebas dari kekotoran batin)
[7] Sacca (Kebenaran, yakni benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran)
[8] Adhitthana (Tekad yang mantap, memutuskan segala sesuatu dengan tepat sempurna,
dan berbuat sesuai pada waktunya)
[9] Metta (Cinta kasih tanpa keinginan memiliki, cinta kasih yang ditujukan terhadap semua
mahluk di 31 alam kehidupan tanpa membedakan bangsa, ras, agama, dan segala
perbedaan, merupakan cinta kasih yang sempurna)
[10] Upekkha (Batin yang tidak tergoyahkan, merupakan batin yang terarah pada
Kebenaran Hukum Kesunyataan (Dharma))

Untuk mencapai Bodhi, Bodhisattva selain melaksanakan dan menyempurnakan Paramita juga melaksanakan 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma.

Sekarang, apakah 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma itu? Itu adalah demikian:

[1] Empat Dasar Perhatian Benar (Satipatthana)
[2] Empat Usaha Benar (Sammapadhana)
[3] Empat Jalan Penguasaan atau Keberhasilan (Iddhipada)
[4] Lima indera (Indriya)
[5] Lima kekuatan mental (Bala)
[6] Tujuh faktor Penerangan Agung (Bojjhanga)
[7] Delapan Faktor Jalan Utama (Asta Ariya Atthangika Maggha)

Dengan menempuh dan menyempurnakan Dharma ini semua, Bodhisattva ini akan bergelar Mahasattva, mencapai Tingkatan Dasa Bhumi sebagai Megha Dharma sampai akhirnya mencapai Anuttara SamyakSamBuddha. Demikianlah Mahayana yang telah ditunjukkan dan telah dibuktikan sendiri oleh Sang Tathagata. Mahayana merupakan Yana Tunggal yang menjadi alasan utama kemunculan Para Tathagata, yakni mengajar Para Bodhisattva dan memang demikianlah adanya, sebab kata-kata Tathagata adalah murni dan tiada dusta.

dan dalam menjalankan paramittanya saya membaginya menjadi 32 level
bodhisattva, di sesuaikan dengan tanda-tanda agung, yang ada pada para
buddha dan mahasattva,

setelah mempunyai 32 tanda seorang bodhisattva menjadi Mahasattva level 1
sebagai perbandingan buddha sakyamuni di level 11 (sammasambuddha)

devi kwan Im di level 9, mahasattva,





sumber : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=319386810&postcount=3343

apa saja pelanggaran Berat untuk seorang Boddhisatva?

Sila Boshisattva
6 Pelanggaran Berat

1. Membunuh

Para umat yang mendalami Buddhadharma dan sebagai upasaka-upasikasadhaka wanita perumah tangga yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, nyawa sekecil semut pun, tidak pula diperkenankan sembarang dibunuh. Terutama bagi yang telah menerima sila, bila menyuruh orang lain melenyapkan nyawa makhluk hidup, atau sendiri yang melakukan pembunuhan, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, atau upasaka-sika yang bejat, atau upasaka-sika yang ternoda, atau upasaka-sika yang terbelenggu.

2. Mencuri

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan mencuri dan merampas harta milik orang lain, sekalipun dana sekecil apapun juga tidak diperkenankan. Apabila melanggar Sila Mencuri, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

3. Berdusta

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan berkata tidak jujur mendustai orang. Misalnya, “Saya telah mencapai tingkat Bodhisattva”, “Telah melampaui tiga alam dan memperoleh sidhi Arahat” dan sebagainya, hal semacam ini yang mana belum mencapai dikatakan mencapai telah merusak kedisiplinan sila. Orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

4. Berzinah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan hubungn intim dengan orang ketiga di luar pasangan suami istri (Apabila melakukan hubungn intim dengan istri sendiri yang sedang menjalani sila, saat lagi hamil tua, menyusui, atau pun melakukan hubungan suami istri dengan cara tidak wajar, juga termasuk berzinah), apabila melanggar Sila Berzinah, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

5. Menjual Beli Miras

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan melakukan transaksi jual-beli minuman keras atau sejenisnya (termasuk jenis barang yang dapat memabukkan pikiran manusia), apabila melanggar Sila Menjual-beli Miras, orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

6. Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah

Selaku upasaka-upasika yang menjalani sila, sekalipun demi mendukung kebahagiaan nyawa dan jasmani, juga tidak diperkenankan menyebar-luaskan kesalahan para bhiksu dan bhiksuni, atau menyebar-luaskan kesalahan para upasaka dan upasika, apabila melanggar Sila Membicarakan Kesalahan Catur Parsadah (bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika), orang demikian sudah kehilangan makna menaati Bodhisattva Sila, meskipun tekun bersadhana, tidak akan pula memperoleh keberhasilan tahap awal, apalagi sampai mencapai Sotopanna, terlebih-lebih Anagami. Orang demikian dinamakan upasaka-sika yang melanggar sila, juga dinamakan upasaka-sika yang kotor, bejat, ternoda, terbelenggu.

DELAPAN BELAS PELANGGARAN UTAMA (PARAJJIKA) IKRAR BODHISATTVA

1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.
2. Tidak memberi harta benda atau Dharma.
3. Menolak permintaan maaf seseorang.
4. Meninggalkan Mahayana.
5. Mengambil milik Triratna.
6. Meninggalkan Dharma.
7. Melepas jubah seseorang.
8. Melakukan lima perbuatan terburuk.
9. Berpandangan salah.
10. Menghancurkan desa atau kota.
11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang mungkin akan salah mengerti.
12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana.
13. Menyebabkan orang lain meninggalkan Pratimoksha.
14. Merendahkan Hinayana.
15. Mengaku telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
16. Menerima sesuatu yang di curi dari Triratna.
17. Membuat peraturan yang menyusahkan.
18. Meninggalkan Bodhicitta.


EMPAT PULUH ENAM PELANGGARAN BIASA (SANGHADISESA) SILA BODHISATTVA

Tujuh pelanggaran yang berkaitan dengan Dana Paramita

1. Tidak melakukan persembahan kepada Hyang Triratna setiap hari.
2. Menuruti keinginan pikiran karena keterikatan.
3. Tidak menghormati mereka yang telah mengangkat ikrar Bodhisattva lebih dulu.
4. Tidak menjawab pertanyaan tulus orang lain.
5. Menolak undangan.
6. Menolak pemberian emas.
7. Tidak memberi Dharma kepada mereka yang menginginkannya.

Sembilan Pelanggaran yang berkaitan dengan Sila Paramita

8. Tidak membantu mereka yang melanggar ikrarnya.
9. Tidak berbuat sesuatu sehingga orang lain bangkit keyakinannya.
10. Hanya melakukan sedikit hal demi kebahagiaan makhluk lain.
11. Dengan belaskasih tidak melakukan perbuatan yang menyakiti.
12. Mencari ketenaran dan kekayaan dengan jalan yang salah.
13. Tertarik pada pertunjukan-pertunjukan.
14. Menganggap bahwa Bodhisattva tidak perlu meninggalkan samsara.
15. Tidak menghindari sebab nama buruk.
16. Tidak membantu orang lain menghindari ketidak bajikan.

Empat pelanggaran yang berkaitan dengan KshantiParamita

17. Membalas mencaci atau menyakiti.
18. Mengabaikan mereka yang marah.
19. Menolak permintaan maaf orang lain.
20. Menuruti serta tidak mengendalikan kemarahan kita. 


Tiga pelanggaran yang berkaitan dengan Virya Paramita

21. Mencari murid karena menginginkan keuntungan dan penghormatan
22. Tidak berusaha mengatasi kemarahan.
23. Tidak meninggalkan pembicaraan yang tak berguna karena keterikatan.

Tiga pelanggaran yang berkaitan dengan Dhyana Paramita

24. Mengabaikan latihan samatha.
25. Tidak berusaha mengatasi rintangan samatha.
26. Hanyut dalam kenikmatan samadhi.

Delapan pelanggaran yang berkaitan dengan Prajna Paramita

27. Meninggalkan Sravakayana.
28. Mempelajari Sravakayana mengorbankan Mahayana.
29. Mempelajari ajaran bukan Dharma dengan mengorbankan Mahayana.
30. Menyenangi ajaran bukan Dharma.
31. Mencela ajaran Mahayana.
32. Memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain.
33. Tidak menghadiri acara pembabaran Dharma.
34. Lebih bergantung pada buku dari pada Guru atau mengabaikan Guru.

Dua belas pelanggaran yang berkaitan dengan ikrar melakukan kebajikan demi semua makhluk

35. Tidak memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.
36. Menolak menolong orang yang sakit.
37. Tidak berusaha mengatasi penderitaan orang lain.
38. Tidak mengajarkan ajaran yang sesuai dengan pendengarnya.
39. Tidak membalas kebajikan mereka yang telah berbuat baik kepada kita.
40. Memperberat perasaan sedih orang lain.
41. Tidak memberikan bantuan materi kepada mereka yang menginginkannya.
42. Tidak memperlakukan secara khusus pada para siswa.
43. Tidak melakukan yang di inginkan orang lain.
44. Tidak memuji kebajikan orang lain.
45. Tidak berbuat sesuatu pada saat di butuhkan.
46. Tidak menggunakan abhijnana.

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9540578